Entah sudah ke berapa kasus yang melibatkan praja IPDN. Jika kasusnya hanya 1 atau dua, bolehlah dikatakan kesalahan manusia, tetapi jika kasus yang terjadi berulang-ulang, maka kesalahan yang terjadi karena sistem yang benar. Slah satu kesalahan sistem yang fatal ialah tidak bisa menemukan root cause (akar permasalahan) yang benar dan bagaimana cara melakukan corrective action-nya. He he, jadi kayak bicara masalah Quality Assurance.
Tapi, betul juga, masalah akhlaq adalah salah satu parameter dari praja yang dihasilkan oleh IPDN. Dalam sistem manajemen mutu (Quality Assurance System) jika kesalahan berulang lebih dari tiga kali, maka bisa dikategorikan menjadi kesalahan major (kesalahan besar), jika kesalahan besar tidak bisa diatasi, maka sistem yang ada bobrok, alias tidak berjalan. Jika sistem tidak berjalan, dijamin, kesalahan akan berulang secara terus menerus. Nah, dari pada korban terus berjatuhan, apa tidak sebaiknya dibubarkan saja?
Bisa sich tidak dibubarkan, tetapi harus membenahi sistem secara menyeluruh. Tidak bisa hanya memperbaiki sebagian saja. Memecat rektor berapa kali pun, jika sistemnya tidak berjalan dengan baik, maka tetap saja percuma.
Satu lagi, mungkin yang menjadi masalah ialah, root cause yang sebenarnya tidak pernah ditemukan karena orang-orang yang mencoba memperbaiki tidak mampu atau tidak mau mengungkap root cause yang terjadi. Hal ini bisa terjadi jika root cause tersebut berhubungan dengan orang tertentu.
Ini hanya opini saya saja, yang saya dapatkan sewaktu saya bekerja dulu.
26 Juli 2007
Haruskah IPDN dibubarkan?
Diposting oleh Rahmat di 07.58 0 komentar
Label: ipdn
24 Juli 2007
Motor Ramah Tetangga
Bagaimana membuat motor ramah tetangga? Memang sekarang banyak para ahli yang sedang meneliti bagaimana membuat motor atau kendaraan yang ramah linkungan, terutama untuk masalah bahan bakar.
Lalu bagaimana dengan motor ramah tetangga? Bisa juga dengan cara teknologi yaitu mendesain mobil atau motor dengan suara yang halus sehingga tidak mengganggu tetangga saat dijalankan. Namun, sambil menunggu agar motor ramah tetangga bisa dilakukan dengan cara:
- Pelan-pelan kalau lewat gang kecil, karena selain bisa menambrak anak-anak, juga suaranya membuat berisik apa lagi malam.
- Jangan memodifikasi knalpot, knalpot sudah didesain untuk meredam suara, koq malah dicopot. Modifikasi boleh, tetapi ke arah yang lebih baik.
Bagi motor yang suara halus dan pelan-pelan, itu masih saya maklumi, tetapi kadang-kadang ada orang GILA yang motornya sudah berisik ngebut lagi. Anak saya yang biasa tidur sejak sore (baru 1 tahun) sering terbangun berkat orang gila ini. Kalau sudah ada anak yang tertabrak, baru ribut.
Mengapa mereka tidak tenggang rasa? Tanya kenapa?
Diposting oleh Rahmat di 07.05 2 komentar
Label: tetangga
15 Juli 2007
Indonesia kalah dari Arab Saudi
Menjelang pertandingan selesai (saat itu kedudukan masih 1:1), saya mengatakan kepada istri, kalau pun Indonesia sampai kalah, saya tidak kecewa dengan perjuangan para pemain. Dan kenyataanya memang kalah. Kekalahan yang sangat disayangkan karena goal terjadi pada saat tambahan waktu. Tetapi saya tetap tidak kecewa, karena para pemain sudah menunjukan perjuangan yang maksimal. Saya tetap mengucapkan selamat kepada para pemain.
Yang membuat saya kecewa adalah panitia dengan kejadian memalukan yaitu mati lampu saat bertanding dan masalah tiket. Yang saya tahu dari TV bahwa para tiket justru ada di calo. Ada apa ini? Ponaryo CS sudah menunjukan keseriusan dalam bertanding, tetapi panitia tidak terlihat keseriusannya. Sudahlah, mudah-mudahan pak Mentri dan PSSI akan memperbaiki masalah ini.
Satu lagi, Indonesia sudah membuat beberapa stadion sepak bola yang bertaraf internasional. Pasti sudah menelan biaya yang tinggi. Sementara masih banyak orang yang makan saja sulit. Kadang merasa sayang, biaya yang begitu besar digunakan untuk membangun sarana olahraga, ditengah keterpurukan ekonomi di negeri ini. Tapi saya berharap pembangunan stadion ini akan membawa manfaat yang besar, misalnya pemerintah (daerah) mendapatkan masukan dana yang berarti dari stadion dan mental bangsa Indonesia menjadi lebih sportif. Mudah-mudahan.
Diposting oleh Rahmat di 11.02 1 komentar
Pilkada-pilkada
Entah berapa kali pilkada sudah kita jalani di berbagai kota atau provinsi di Indonesia ini. Pilkada yang diselenggarakan hampir selalu diwarnai dengan berbagai kericuhan, siapa pun yang menang.
Inilah Indonesia, saat orang yang didukung kalah baik dalam pilkada maupun dalam sepak bola, sering kali tidak puas, merusak, dan membuat kerusuhan. Hal ini sering kali kita lihat dalam berita di TV. Bukan barang yang aneh.
Pilkada juga menelan biaya yang tidak sedikit, setidaknya milyaran rupiah keluar dari setiap pilkada baik uang dari pemerintah untuk dana penyelenggaraan, maupun dana yang dikeluarkan oleh calon untuk kampanye. Bayangkan, berapa banyak sekolah yang ambruk bisa diperbaiki dengan biaya ini!
Namun, apakah kita harus menghentikan pilkada? Tidak, pilkada masih perlu karena setiap penyelenggaraan pilkada ada harapan baru agar Indonesia lebih baik baik lagi, yaitu jika seandainya yang terpilih itu adalah mereka yang memang benar-benar memikul amanah untuk menjadi pemimpin yang baik, bukan orang yang hanya haus tahta dan harta (juga wanita?).
Memang sayang, jika dana yang besar tersebut tidak menghasilkan apa-apa. Oleh karena itu jangan sia-siakan kesempatan mendapatkan pemimpin yang lebih baik ini, dengan cara tidak asal pilih atau malah tidak memilih. Kita perlu mendapatkan pemimpin yang benar-benar memperbaiki kondisi negeri ini. Golput malah tidak menyelesaikan masalah.
Dapatkan informasi sebaik mungkin tentang calon yang ada, kemudian berdo'alah agar peminpin terbaik menurut Allah terpilih. Jangan-jangan bangsa ini sering lupa memohon untuk dipilihkan pemimpin terbaik. Padahal Rasulullah SAW pernah berdo'a agar Abu Jahal dan Umar bin Khatab masuk Islam, karena kedua orang tersebut adalah termasuk orang yang memiliki pengaruh yang besar.
Jadi adanya orang yang berpengaruh (saat ini adalah pemimpin) dan shalih adalah diperlukan agar terjadinya perbaikan di negeri ini. Bukannya chuek bebek aja. Mari kita berusaha dan berdo'a. Jadikan orang shalih menjadi pemimpin di negeri ini atau jadikan pemimpin yang sudah terpilih menjadi orang yang shalih. Amin.
Diposting oleh Rahmat di 10.27 0 komentar